Mengenal Baterai Lithium UNS, Hasil Riset Guru Besar Teknik Kimia FT UNS

27 August, 2021

FT UNS - Banyak produk hasil penelitian yang telah dihasilkan oleh civitas akademika Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Salah satunya baterai lithium yang dikembangkan oleh Prof.  Agus Purwanto, salah seorang Guru Besar dari Program Studi (Prodi) Teknik Kimia Fakultas Teknik UNS.

Melalui inovasinya tersebut, Prof. Agus memenangkan Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) Science and Technology Award pada awal 2020 lalu. Ia bersama tim risetnya berhasil mensintesis bahan berbasis nickel cobalt aluminium oxide (NCA) dan lithium titanat (LTO) sebagai bahan utama pembuatan baterai lithium. Selain itu, Ia juga mengembangkan metode daur ulang NCA untuk memangkas biaya produksi

Dikutip dari Jawapos.com, baterai lithium yang diluncurkan oleh UNS pada beberapa tahun yang lalu telah memasuki tahapan baru. Sejak 2020, Pusat Unggulan Iptek (PUI) Baterai Lithium UNS berhasil merangkul sebuah start up, PT Batex. Baterai lithium akan dipasarkan secara bisnis melalui start up tersebut.

“PT Batex kami berikan lisensi untuk memasarkan atau mengomersialisasikan baterai lithium tersebut. Jadi, UNS mendapatkan royalty dari pemasaran baterai lithium. Berhubung ini perusahaan rintisan, kami berharap proses ke depan akan berjalan lancar dan baik,” ujar Prof. Agus Purwanto pada Senin (16/8/2021).

Prof. Agus Purwanto yang juga merupakan Ketua PUI Baterai Lithium UNS mengatakan bahwa selama setahun terakhir sejak menggandeng start up, bisnis baterai lithium cukup berkembang. Saat ini, belum banyak yang mengembangkan baterai lithium, bahkan teknologi ini masih cukup awam bagi masyarakat.

“Baterai lithium sebenarnya digunakan untuk banyak alat. Jadi, kami mencoba masuk melalui celah-celah tersebut. Kami melakukan pendekatan ke pabrikan end product, seperti sepeda listrik, mobil listrik, dan kapal nelayan. Hal ini karena baterai lithium bukan end product, tapi hanya komponen. Jadi, strategi bisnisnya pun berbeda,” terangnya.

Direktur Inovasi dan Hilirisasi UNS tersebut mengatakan bahwa PUI ini didirikan sebagai pilot plant untuk edukasi dan transformasi laboratorium di kampus, bukan untuk bisnis. Ia menegaskan bahwa pabrik baterai lithium yang terletak di Pusat Pengembangan Bisnis (PUSBANGNIS) UNS, Jl. Slamet Riyadi, Solo ini  telah mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memahami dan menguasai teknologi baterai lithium.

“Kalau Indonesia Battery Corporation, industri baterai berkembang dengan baik, kami bisa me-nyupply alumni sebagai tenaga kerja di sana karena pengetahuan mengenai baterai lithium sudah bagus,” jelasnya.

Menurut Prof. Agus yang merupakan alumni Universitas Hiroshima-Jepang dan juga sebagai penggiat Pusat Studi Jepang UNS, "hal yang perlu diluruskan adalah mindset masyarakat yang beranggapan bahwa UNS berjualan baterai lithium. Padahal, riset yang dilakukan oleh Prof. Agus dan PUI murni untuk keperluan edukasi. Perihal komersialisasi, Ia menyerahkan kepada pihak swasta melalui kerja sama dengan start up atau joint venture dengan perusahaan."

“Sekarang kami sudah ada MoU (memorandum of understanding) dengan PT Inka untuk membangun joint venture. Lalu untuk komersialisasi, kami menggandeng kerja sama dengan pihak swasta. Kami supply knowledge dan riset karena kampus dalam diskursus penelitian dan pengembangan, bukan jualan,” tandas Prof. Agus.

Perjalalan baterai lithium yang dimulai sejak 2012 mengalami proses pasang surut. Dari sisi pengembangan sains dan teknologi, Prof. Agus menuturkan bahwa banyak bahan baku dan alat yang sulit didapatkan di Indonesia. Hal ini berdampak pada lamanya pengadaan bahan karena harus memesan dari luar negeri terlebih dahulu sehingga memakan waktu hingga beberapa bulan.

“Lambat laun, makin ke sini kami didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang membantu alat. Kendala saat ini adalah bahan baku, jadi kami berinovasi untuk membuat sendiri bahan bakunya. Di dalam baterai lithium, terdapat 18 komponen. UNS membuat salah satu komponen yang memiliki nilai ekonomis paling besar. Sekitar 30-40 persen dari harga baterai. Komponen yang lain tetap impor. Tapi ini dalam konteks pengembangan ya,” katanya. Humas FT/Aji. Editor/ KNH