
FT UNS – Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) kembali melaksanakan Yudisium Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil pada Kamis (18/06/2026) di Ruang Multimedia Gedung IV FT UNS. Pada kesempatan tersebut, Setiono resmi dinyatakan lulus pada tanggal 29 Mei 2026 dan berhak menyandang gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan serta perolehan IPK 3,94.
Dalam disertasinya yang berjudul “Model Resiliensi Seismik Infrastruktur Fisik Perkotaan di Indonesia”, Dr. Setiono yang merupakan dosen aktif di Program Studi Teknik Sipil FT UNS mengangkat isu penting terkait pengembangan model untuk mengukur resiliensi seismik infrastruktur fisik perkotaan. Disertasi tersebut disusun pada Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS), di bawah bimbingan Prof. Dr. Senot Sangadji, S.T., M.T., Prof. S. A. Kristiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., dan Dr. Ir. Nur Miladan, S.T., M.T., IPU.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan metode yang lebih komprehensif untuk mengukur ketangguhan infrastruktur perkotaan dalam menghadapi gempa bumi. Selama ini, berbagai model evaluasi umumnya hanya berfokus pada tingkat kerusakan bangunan atau waktu pemulihan secara terpisah. Padahal, ketangguhan sebuah kota ditentukan oleh kemampuan infrastruktur untuk tetap berfungsi sekaligus pulih dengan cepat setelah bencana terjadi.

Melalui penelitian ini, Dr. Setiono mengembangkan model yang mengintegrasikan tiga pendekatan ilmiah, yaitu Analytic Hierarchy Process (AHP), Fuzzy Logic, dan Fragility Analysis. Integrasi ketiga metode tersebut memungkinkan penilaian resiliensi dilakukan secara lebih adaptif dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan bangunan, waktu pemulihan, serta berbagai ketidakpastian yang terjadi di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan gedung menjadi komponen infrastruktur yang memiliki tingkat prioritas tertinggi dalam menjaga keberlangsungan fungsi perkotaan pascagempa. Di dalam kategori tersebut, rumah tinggal menempati posisi paling penting, diikuti fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan. Selain itu, jaringan transportasi seperti jalan dan jembatan juga menjadi elemen krusial karena berperan dalam mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi bantuan saat terjadi bencana.

Untuk menguji keandalan model yang dikembangkan, penelitian ini menerapkan simulasi pada rumah tinggal di Kota Surakarta. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada tingkat percepatan spektral rendah, bangunan masih mampu mempertahankan sebagian besar fungsinya. Namun, seiring meningkatnya intensitas gempa, tingkat fungsionalitas bangunan mengalami penurunan yang signifikan. Dengan memasukkan parameter waktu pemulihan ke dalam perhitungan, model ini mampu menghasilkan indeks resiliensi yang memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai tingkat ketangguhan suatu wilayah terhadap dampak gempa bumi.
Menurut Dr. Setiono, model yang dikembangkan tidak hanya berfungsi untuk mengukur tingkat kerusakan infrastruktur yang disebabkan oleh gempa, tetapi juga memungkinkan dilakukan terhadap bencana lain seperti banjir dan tanah longsor.

“Jadi kita tinggal menghubungkan antara jenis bencana dengan karakternya seperti apa untuk dilakukan rehabilitasi atau rekonstruksi. Sehingga ini memang terbuka untuk bencana-bencana lainnya ada di Indonesia seperti banjir dan tanah longsor” ujar Dr. Setiono.
Melalui penelitian ini, FT UNS kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. Hasil penelitian ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)melalui pengembangan model evaluasi infrastruktur yang lebih adaptif, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan ketangguhan perkotaan terhadap bencana, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan risiko dan peningkatan kapasitas adaptasi terhadap berbagai ancaman kebencanaan.
Humas FT UNS.




