
FT UNS – Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) menyelenggarakan kuliah umum dalam rangka Program Visiting Professor pada Kamis (07/05/2026) di Ruang Multimedia Gedung IV FT UNS. Mengusung tema Mobility as a Service: Challenges and Opportunities, kegiatan ini menjadi bagian dari program EQUITY: Enhance Quality Education for International University Impacts and Recognition yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi guna memperkuat kualitas pendidikan tinggi Indonesia melalui kolaborasi internasional yang berlangsung hingga 2030.
Kuliah umum ini menghadirkan empat pembicara lintas institusi: Prof. John D. Nelson dari University of Sydney, Gonggomtua E. Sitanggang dari ITDP Southeast Asia, Dr. Ir. Haris Muhammadun dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), serta Ir. Budi Yulianto, S.T., M.S.c., Ph.D dari UNS sendiri. Kegiatan dimoderatori Lydia Novitriana Nur Hidayati, S.T., M.Sc., Ph.D. dan dihadiri mahasiswa program sarjana, magister, doktor, dosen, serta pemangku kepentingan di bidang transportasi.
Dekan FT UNS, Prof. Dr. Wahyudi, membuka kegiatan dengan menegaskan bahwa tantangan transportasi Indonesia adalah warisan nyata yang harus diselesaikan generasi muda. Ia menyoroti masih rendahnya kualitas transportasi di Indonesia, tingginya emisi, dan besarnya biaya ekonomi yang ditimbulkan sebagai bagian dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang belum tuntas.

“Saudara adalah calon pewaris masa depan, tetapi warisannya tidak semuanya baik. Di depan mata kita melihat buruknya transportasi di Indonesia, tingginya emisi, dan tidak berfungsinya angkutan publik di beberapa kota besar,” ujar Prof. Wahyudi.
Merespons tantangan tersebut, Prof. John D. Nelson memaparkan konsep Mobility as a Service (MaaS) sebagai layanan yang memungkinkan pengguna merencanakan, memesan, dan membayar berbagai moda transportasi dalam satu platform terintegrasi. Ia menguraikan empat tingkatan integrasi MaaS, mulai dari sekadar berbagi informasi hingga akses mobilitas yang sepenuhnya terintegrasi secara menyeluruh, seraya menekankan bahwa hambatan terbesar MaaS justru bukan soal teknologi.
“Banyak permasalahan yang kita hadapi saat ini bukanlah permasalahan teknis. Di sinilah kita sering terhambat dalam mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk mau bekerja sama satu sama lain.” Ujar Prof. Nelson.
Lebih jauh, Prof. Nelson memperkenalkan konsep Mobility as a Feature (MaaF), yakni menanamkan mobilitas ke dalam ekosistem layanan kesehatan, ritel, dan asuransi agar transportasi menjadi bagian yang mulus dari aktivitas sehari-hari.

Senada dengan itu, Dr. Haris Muhammadun berbagi pengalaman langsung mengadvokasi integrasi tarif transportasi di Jakarta. Dengan tarif terintegrasi, penumpang yang menggunakan tiga moda hanya dikenai maksimal Rp10.000, jauh lebih hemat dibanding akumulasi tarif terpisah yang bisa mencapai Rp18.500.
“Kalau ABG-nya tidak jalan, jalan sendiri-sendiri, pasti akan ada masalah. Akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah harus berkolaborasi,” ujar Dr. Haris.
Upaya panjang tersebut kini membuahkan hasil yaitu, Jakarta masuk peringkat 17 kota dengan transportasi publik terbaik dunia versi Time Out 2025.

Sementara itu, Ir. Budi Yulianto memaparkan perjalanan reformasi angkutan umum Kota Solo sejak 2009 dari 15 operator yang tidak teratur menjadi tiga operator terstruktur dengan 12 koridor Batik Solo Trans. Keberhasilan Solo menarik pendanaan 12 koridor dari pemerintah pusat pada 2020 tak lepas dari kuatnya kelembagaan yang dibangun sejak awal.
“Financial sustainability sangat penting. Ketika kita membangun sistem tanpa financial security maka tidak akan berjalan sesuai yang diharapkan,” ujar Ir. Budi Yulianto.

Melalui kegiatan Visiting Professor ini, FT UNS menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan sistem transportasi berkelanjutan melalui kolaborasi global, riset, dan inovasi. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan sistem transportasi modern, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengembangan transportasi publik yang terintegrasi dan ramah lingkungan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan praktisi internasional. Humas FT UNS.




