
FT UNS – Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) menggelar kuliah tamu bertajuk “Desain dan Konstruksi Bangunan Supertall: Thamrin Nine Menggunakan Metode Performance Based Seismic Design (PBSD)” pada Selasa (19/05/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Multimedia FT UNS tersebut menghadirkan Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Indra Djati Sidi, M.Sc., Ph.D, sebagai narasumber dan dimoderatori oleh dosen Teknik Sipil UNS, Muhammad Yani Bhayusukma, S.T., M.T., Ph.D.
Kegiatan tersebut disambut oleh Dekan FT UNS, Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., IPU., yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memahami aspek teknis bangunan tinggi dan ketahanan gempa, tetapi juga harus memiliki pola pikir yang kritis dan dinamis.
“Saya berpesan, bukan hanya memahami ilmu teknik bangunan tinggi dan gempa, tetapi mahasiswa harus memiliki pemikiran yang dinamis dan kritis. Karena tanpa itu, kita akan kehilangan gagasan besar untuk pembangunan Indonesia ke depan,” ungkap Prof. Wahyudi.

Ia juga menambahkan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat aktivitas gempa tinggi membutuhkan inovasi dan pemikiran rekayasa struktur yang lahir dari generasi muda bangsa sendiri.
“Indonesia adalah negara yang dekat dengan risiko gempa, sehingga pemikiran dan inovasi dalam rekayasa struktur, termasuk bangunan tinggi, harus lahir dari anak bangsa sendiri” tambahnya.
Memasuki pemaparan materi, Prof. Indra menjelaskan berbagai pembelajaran dari pembangunan Autograph Tower di kawasan Thamrin Nine, Jakarta, yang merupakan salah satu bangunan tertinggi di belahan bumi selatan khatulistiwa dengan ketinggian mencapai 385 meter dan 111 lantai. Ia memaparkan bagaimana pendekatan Performance Based Seismic Design (PBSD) diterapkan untuk menghasilkan desain struktur yang lebih efisien dan tetap aman terhadap beban gempa.
Prof. Indra juga menjelaskan bahwa pembangunan gedung super tinggi memerlukan pendekatan perencanaan yang kompleks, mulai dari penggunaan sistem struktur seperti outrigger dan belt truss, pemanfaatan material berkekuatan tinggi, hingga analisis riwayat waktu gempa (non-linear time history analysis) untuk memastikan performa bangunan tetap optimal saat terjadi gempa besar.

“Semua masalah dalam pembangunan proyek dapat diselesaikan dengan menggunakan prinsip dasar mekanika teknik, mekanika bahan, dan dinamika struktur. Karena itu, penguasaan ilmu dasar teknik menjadi sangat penting,” jelas Prof. Indra.
Selain membahas aspek teknis, kuliah tamu ini juga menyoroti pentingnya penguasaan fundamental ilmu teknik sipil dalam menjawab tantangan pembangunan infrastruktur modern, khususnya pada konstruksi bangunan super tinggi di wilayah rawan gempa seperti Indonesia.

Melalui kegiatan ini, harapannya mahasiswa memperoleh wawasan praktis mengenai desain dan konstruksi bangunan super tinggi, sekaligus memahami tantangan nyata dunia konstruksi modern yang membutuhkan inovasi, keberanian berpikir, dan kompetensi teknik yang kuat. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan melalui penguatan kompetensi dan inovasi di bidang rekayasa struktur dan konstruksi.
Humas FT UNS.




