
FT UNS – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kajian Isu dan Aksi Strategis bertajuk “Mengurai Benang Kusut Proyek PLTS dan BESS di Jawa Tengah: Regulasi, Investasi, dan Kesiapan Pasar” pada Senin (29/06/2026) di Ruang Seminar Utama Gedung Ir. RPM Kasifudin FT UNS. Kegiatan ini menjadi wadah diskusi bagi mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri dalam membahas tantangan serta peluang pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.
Kegiatan tersebut menghadirkan lima narasumber dari berbagai kalangan, yakni Agus Dwi Ibnu, M.T. selaku Kepala Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Wilayah Surakarta, Imam Asrori selaku Senior Manajer Perencanaan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Tengah, Rahmat Jaya Eka Syahputra dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Ir. Feri Adriyanto, Ph.D., serta Dearyl Ferdick Budiman.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FT UNS, Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., IPU.. Dalam sambutannya, Prof. Wahyudi menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun industri, tetapi juga merupakan persoalan yang berkaitan langsung dengan masa depan mahasiswa sebagai calon insinyur.

“Persoalan transisi energi tidak boleh dipandang hanya sebagai isu pemerintah atau pelaku industri. Ini merupakan persoalan yang berkaitan langsung dengan masa depan mahasiswa sebagai calon insinyur. Oleh karena itu, mahasiswa harus peduli, kritis, dan ikut mencari solusi bagi pengembangan sektor energi di Indonesia,” ujar Prof. Wahyudi.
Pada sesi pemaparan materi, narasumber pertama, Agus Dwi Ibnu, M.T., menyampaikan bahwa transisi energi menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung Asta Cita serta memperkuat ketahanan energi di Jawa Tengah. Menurutnya, keberhasilan pengembangan energi baru terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS), memerlukan dukungan regulasi yang jelas dan konsisten sebagai landasan hukum bagi para investor maupun pelaku industri.
Intinya adalah kelima narasumber menekankan bahwa mahasiswa perlu mempersiapkan diri tidak hanya melalui penguasaan kompetensi teknis, seperti desain PLTS, sistem tenaga listrik, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan, tetapi juga kompetensi nonteknis seperti kepemimpinan, komunikasi, kewirausahaan, manajemen proyek, dan kemampuan pemecahan masalah.

Meskipun demikian, pengembangan sektor energi terbarukan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain tingginya biaya investasi awal, perubahan regulasi, terbatasnya insentif, serta rendahnya tingkat adopsi teknologi oleh masyarakat dan industri. Selain itu, masih terdapat kesenjangan kompetensi lulusan, seperti minimnya pengalaman proyek, keterbatasan sertifikasi profesi, kurangnya portofolio, dan rendahnya penguasaan perangkat lunak industri.
Selain itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan sektor finansial untuk mempercepat adopsi energi terbarukan di Indonesia melalui penyediaan insentif, penguatan regulasi, pengembangan skema pembiayaan hijau, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui forum ini, mahasiswa didorong untuk memahami berbagai tantangan pengembangan energi terbarukan secara komprehensif, mulai dari aspek regulasi, investasi, kesiapan pasar, hingga pengembangan teknologi. Diharapkan, diskusi ini mampu melahirkan gagasan inovatif dan solusi nyata yang dapat mendukung percepatan transisi energi di Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen FT UNS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi and Infrastruktur), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan inovasi di bidang energi berkelanjutan.
Humas FT UNS




