
FT UNS – Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Theorizing History, Historicizing Theory” pada Kamis (07/05/2026) di Ruang Seminar Utama Gd. Ir. RPM Kasifudin FT UNS dan Zoom Meeting. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Robert Cowherd dari Wentworth Institute of Technology, Amerika Serikat, yang hadir di UNS sebagai Fulbright Specialist untuk melakukan kajian kolaboratif terhadap kurikulum Program Studi Arsitektur, khususnya pada mata kuliah sejarah dan teori arsitektur.
Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS, Prof. Ir. Dody Ariawan, S.T., M.T., Ph.D., IPU. Dalam sambutannya, Prof. Dody menekankan bahwa kehadiran Prof. Cowherd bukan sekadar kunjungan akademik biasa, melainkan sebuah kolaborasi yang nyata untuk memperkuat cara UNS mengajarkan mahasiswa berpikir kritis tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan lingkungan binaan.
“Sejarah dan teori bukan mata kuliah mati. Keduanya adalah percakapan kritis yang terus hidup di dalam bangunan, dalam adaptasi, dan dalam identitas arsitektur kita,” ujar Prof. Dody.
Kuliah umum ini dibagi ke dalam tiga sesi. Prof. Cowherd memaparkan bahwa di Wentworth, sejarah dan teori diajarkan secara terintegrasi dalam satu mata kuliah empat SKS selama dua semester, suatu pendekatan yang lahir dari kesadaran bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan.

“Ini adalah sejarah yang diinformasikan oleh teori, dan teori yang lahir dari bukti-bukti sejarah. Integrasi keduanya adalah hal yang krusial,” ujar Prof. Cowherd.
Ia juga mencatat bahwa meski format pengajaran berbeda, beban studi sejarah dan teori di UNS dan Wentworth sesungguhnya setara, yakni masing-masing delapan SKS.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Prof. Cowherd adalah struktur kurikulum sejarah di Program Studi Arsitektur UNS. Ia mengapresiasi adanya semester Nusantara, di mana mahasiswa terlebih dahulu belajar arsitektur lokal mulai dari rumah adat hingga tradisi bangunan pra-kolonial sebelum beranjak ke konteks mancanagara.

“Semester Nusantara adalah sesuatu yang sangat istimewa dan sangat tepat untuk mahasiswa UNS. Di Amerika, tradisi arsitektur lokal sudah banyak yang hilang. UNS justru masih memilikinya, dan itu adalah kekuatan yang luar biasa,” ujar Prof. Cowherd.
Tak hanya itu, dalam kegiatan ini juga terdapat pameran arsitektur “Saat Priori Bertemu Tropis: Pengaruh Frank Lloyd Wright terhadap Arsitektur Indonesia”. Pameran ini lahir dari proses riset intensif yang dilakukan mahasiswa Program Studi Arsitektur FT UNS bersama Prof. Cowherd selama masa kunjungannya di sela-sela jadwal perkuliahan, dengan hasil karya yang melampaui ekspektasi. Prof. Cowherd sendiri menyebut pameran ini bukan sekadar tugas mahasiswa, melainkan sebuah penelitian yang dinilai sangat layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

Melalui kegiatan kuliah umum dan kolaborasi internasional ini, FT UNS terus memperkuat kualitas pendidikan dan pengembangan keilmuan di bidang arsitektur. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kualitas pembelajaran berbasis global, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan pemahaman terhadap lingkungan binaan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi internasional antara perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum dan riset. Humas FT UNS.




