
FT UNS – Program Studi Doktor Ilmu Teknik Mesin (PSDITM) Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali mengukuhkan doktor baru melalui Yudisium Promosi Doktor Ilmu Teknik Mesin atas nama Dr. Ipick Setiawan, Rabu (26/8/2026), di Ruang Multimedia Gedung IV FT UNS. Dr. Ipick dinyatakan lulus pada tanggal 31 Juli 2026 dengan IPK 3,85 dan predikat sangat memuaskan setelah mempertahankan disertasinya berjudul “Peningkatan Sifat Mekanik dan Tahan Api Komposit UPR/GF dengan Perlakuan Post-Curing dan Penambahan Filler.”
Dr. Ipick merupakan dosen aktif Program Studi Teknik Mesin Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang. Dalam penelitiannya, ia mengembangkan glass fiber reinforced polymer (GFRP) berbasis unsaturated polyester resin (UPR). Material tersebut memiliki keunggulan berupa bobot ringan, kekuatan mekanik, dan kemudahan dibentuk, sehingga berpotensi digunakan pada berbagai komponen industri transportasi.
Namun, penggunaan resin poliester memiliki tantangan karena sifatnya yang mudah terbakar. Penelitian Dr. Ipick kemudian diarahkan untuk memperoleh komposit dengan kekuatan mekanik yang baik sekaligus mampu memperlambat penyalaan dan rambatan api.

Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian memadukan proses post-curing dengan penambahan nanosilika dan aluminium trihidroksida (ATH) sebagai filler. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan post-curing terbaik diperoleh pada suhu 140°C selama 60 menit, sedangkan nanosilika 2 persen volume memberikan kekuatan lentur tertinggi hingga 124,72 MPa.
Sementara itu, ATH 5 persen volume menunjukkan efektivitas terbaik dalam meningkatkan ketahanan terhadap api dengan waktu penyalaan mencapai 106,4 detik dan laju pembakaran 0,228 mm/detik. Kombinasi 2 persen nanosilika dan 3 persen ATH menghasilkan keseimbangan sifat mekanik yang baik dengan kekuatan lentur 106,49 MPa.
Dr. Ipick menjelaskan, material yang dikembangkan tidak dimaksudkan untuk sepenuhnya membuat komposit tidak terbakar, tetapi untuk menghambat laju rambatan api sehingga memberikan waktu lebih bagi pengguna untuk melakukan evakuasi.

“Terbakar, tapi agak lambat. Ada waktu untuk evakuasi. Jadi ketika terjadi kebakaran, api tidak cepat merambat sehingga minimal bisa menghambat dan memberikan kesempatan orang untuk menyelamatkan diri,” jelas Dr. Ipick.
Menurutnya, karakteristik tersebut membuka peluang penerapan material pada industri transportasi, seperti panel kereta api, otomotif, hingga pesawat. Selain memiliki sifat mekanik dan ketahanan api yang lebih baik, komposit berbasis poliester juga relatif mudah dibentuk sesuai kebutuhan komponen.
“Komposit dengan polyester ini lebih mudah dibentuk. Jadi bentuk seperti apa pun lebih mudah dibuat dan bisa diterapkan di industri otomotif, transportasi, pesawat, kereta api, dan lainnya,” tambahnya.
Dalam proses akademiknya, Dr. Ipick dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T., IPU. selaku promotor, bersama Prof. Venty Suryanti, S.Si., M.Phil., Ph.D. sebagai ko-promotor 1 dan Prof. Dr. Ir. Wahyu Purwo Raharjo, S.T., M.T. sebagai ko-promotor 2.
Prof. Kuncoro Diharjo selaku promotor mengapresiasi proses penyelesaian disertasi yang dilakukan Dr. Ipick, termasuk produktivitas publikasi selama masa studi.
“Niat baik Pak Ipick sudah cukup bagus dalam menyelesaikan tugas ini dengan menulis tiga manuskrip dalam satu disertasi,” ujar Prof. Kuncoro.

Hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan material komposit yang tidak hanya mempertimbangkan kekuatan dan bobot, tetapi juga aspek keselamatan melalui kemampuan memperlambat rambatan api. Temuan tersebut menjadi pijakan untuk pengembangan material yang lebih aman bagi kebutuhan industri transportasi dan aplikasi lainnya.
Pengembangan inovasi material tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi material untuk mendukung industri, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengembangan material dan proses yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Humas FT UNS.




