
FT UNS – Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui Grup Riset Rekayasa Industri dan Tekno-Ekonomi (RITE) menggelar diskusi strategis bertajuk “Haruskah Bengkel Konversi Sepeda Motor Mati Suri di Tengah Program Transisi Energi Nasional?” pada Rabu (19/8/2026). Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas keberlanjutan bengkel konversi sepeda motor listrik sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik dalam mendukung percepatan transisi energi nasional.
Diskusi tersebut dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memperkuat implementasi program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) menjadi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Di tengah target Net Zero Emission (NZE) 2060, pelaksanaan program konversi masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain permintaan pasar yang belum optimal, skala keekonomian bengkel, ketersediaan sumber daya manusia, rantai pasok komponen, serta aspek regulasi dan administrasi kendaraan hasil konversi.
Dalam forum tersebut, Prof. Ir. Muhammad Nizam, S.T., M.T., Ph.D. memaparkan kesiapan teknologi konversi kendaraan listrik yang telah dikembangkan melalui ekosistem riset dan inovasi di UNS. Proses konversi meliputi pelepasan sistem pembakaran, pemasangan kit konversi, integrasi motor, controller, baterai dan Battery Management System (BMS), hingga pengujian kelayakan kendaraan.
Berbagai pengembangan yang telah dilakukan UNS mencakup realisasi kendaraan hasil konversi, pengembangan desain battery pack, fasilitas battery swapping station, pengujian teknologi, hingga kegiatan inkubasi bisnis melalui iHub UNS. Dari sisi teknologi, integrasi komponen kendaraan listrik dan penerapan sistem battery swapping dinilai telah menunjukkan kesiapan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Namun, Prof. Nizam menegaskan bahwa kesiapan teknologi belum cukup untuk memastikan keberhasilan program konversi. Masih diperlukan penguatan model bisnis bengkel, kesinambungan permintaan pasar, ketersediaan komponen dan rantai pasok, standardisasi proses konversi, infrastruktur pendukung, serta percepatan proses pengujian, sertifikasi, dan administrasi kendaraan.

Sementara itu, Rubiyanto, selaku pelaku usaha bengkel konversi, menyampaikan pengalaman dan berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha di lapangan. Beberapa persoalan yang masih dihadapi meliputi harga komponen, distribusi pasokan, prosedur subsidi dan verifikasi dokumen, proses pengujian dan sertifikasi, perubahan dokumen legal kendaraan, hingga jumlah masyarakat yang melakukan konversi yang masih relatif terbatas.
“Bengkel konversi siap menjadi mitra pemerintah dalam mempercepat peralihan ke kendaraan bermotor listrik. Tantangan utamanya adalah bagaimana membangun skala keekonomian agar usaha konversi dapat berjalan secara berkelanjutan,” ungkap Rubiyanto.
Diskusi kemudian berkembang pada pentingnya membangun ekosistem konversi dengan skala yang lebih besar. Pendekatan berbasis platform dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi, baik dalam proses konversi maupun penyediaan komponen. Strategi tersebut perlu didukung standardisasi teknologi, penguatan rantai pasok lokal, pengembangan fasilitas penukaran baterai, penyederhanaan sertifikasi, serta penciptaan pasar melalui kolaborasi pemerintah, industri, sekolah vokasi, dan komunitas pengguna.
Dekan FT UNS, Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., IPU, turut mendorong adanya terobosan dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik hasil konversi. Menurutnya, percepatan transisi tidak cukup dilakukan melalui pendekatan konvensional, tetapi membutuhkan strategi yang mampu menjawab hambatan utama konsumen dan pelaku usaha.
Sejumlah gagasan yang mengemuka antara lain evaluasi efektivitas subsidi, transformasi bengkel dari pola custom-made menuju produksi yang lebih efisien, serta pengembangan mekanisme pasar tukar-pakai (trade-in market) yang memungkinkan masyarakat menukarkan kendaraan berbahan bakar minyak dengan kendaraan listrik hasil konversi secara lebih mudah.
Prof. Wahyudi juga menekankan pentingnya membangun sistem used-EV valuation atau penilaian kendaraan listrik bekas untuk meningkatkan kepercayaan pasar terhadap nilai dan kualitas kendaraan hasil konversi. Upaya tersebut perlu didukung kontrol kualitas, pemilihan pemasok, serta tata kelola rantai pasok yang lebih baik.
Di sisi lain, perguruan tinggi dan sekolah vokasi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. FT UNS dapat menjadi penghubung antara pusat unggulan iptek, laboratorium, bengkel konversi, SMK, industri, pemerintah, dan pengguna melalui kegiatan riset, pendidikan, pelatihan, pengujian, serta pendampingan implementasi teknologi.
Penguatan ekosistem kendaraan listrik melalui konversi juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan bermutu melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia, SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui upaya pengurangan emisi kendaraan bermotor.
Humas FT UNS.




