
FT UNS –Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) mengukuhkan 20 lulusan Batch II bertempat di Ruang Seminar Utama, Gedung Ir. RPM Kasfudin FT UNS, Jumat (30/10/2026). Pengukuhan ini menjadi bagian dari upaya PPAr FT UNS menyiapkan arsitek profesional yang kompeten, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat serta lingkungan.
Ketua Program Studi PPAr FT UNS, Dr. Ir. Ar. Yosafat Winarto, S.T., M.T., IAI, dalam laporan pendidikannya menyampaikan bahwa para lulusan telah menyelesaikan seluruh proses akademik, asesmen kompetensi, serta pemenuhan standar kualifikasi profesi arsitek. Sebanyak 20 lulusan pada periode ini menambah jumlah lulusan PPAr FT UNS menjadi 41 orang sejak program studi tersebut berdiri pada 2024.
“Hari ini merupakan momentum yang sungguh istimewa. Dengan rasa syukur dan bangga, saya berdiri di sini untuk menyampaikan laporan pendidikan sekaligus menyampaikan apresiasi atas kelulusan para mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Batch II Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret,” ujar Dr. Yosafat.

Menurutnya, gelar profesi yang diperoleh tidak hanya menjadi pencapaian pendidikan, tetapi juga membawa tanggung jawab sosial dan moral. Para lulusan diharapkan mampu menghasilkan karya arsitektur yang bermanfaat bagi masyarakat, memperhatikan keberlanjutan lingkungan, serta menjaga nama baik almamater.
Sambutan Rektor UNS disampaikan oleh Direktur Direktorat Akademik UNS, Prof. Dr. Agr. Ir. Sigit Prastowo, S.Pt., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para lulusan dan menegaskan pentingnya kompetensi, etika, serta profesionalitas dalam praktik arsitektur.
“Selamat kepada seluruh lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan profesi ini. Pencapaian saudara merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, dan dedikasi, sekaligus awal dari tanggung jawab profesional yang lebih besar kepada masyarakat,” ungkap Prof. Sigit saat menyampaikan sambutan Rektor UNS.

Ia menjelaskan bahwa profesi arsitek tidak hanya berkaitan dengan estetika dan fungsi bangunan, tetapi juga menyangkut keselamatan, kenyamanan, aksesibilitas, kelestarian lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, arsitek dituntut menghasilkan karya yang inovatif, inklusif, tangguh terhadap risiko bencana, adaptif terhadap perubahan iklim, serta menghargai budaya dan kearifan lokal.
Prof. Sigit juga menegaskan bahwa pengukuhan dan pemberian gelar profesi Pendidikan Arsitek (P. Ars.) merupakan pengakuan atas penyelesaian pendidikan profesi. Adapun pelaksanaan praktik arsitek tetap harus memenuhi persyaratan registrasi, lisensi, dan ketentuan profesional sesuai peraturan perundang-undangan.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI, AA, turut menyampaikan pesan kepada para lulusan mengenai tantangan memasuki dunia profesi. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menjadi arsitek profesional membutuhkan proses, ketekunan, dan kesiapan untuk membangun fondasi yang kuat.
“Anda semua punya tugas yang cukup berat, karena Anda harus menjadi batu terlebih dahulu, batu yang akan menjadi fondasi,” pesannya.

Georgius juga menyoroti tantangan profesi arsitek di Indonesia. Berdasarkan catatan yang disampaikannya, dari sekitar 6.000 lulusan arsitektur setiap tahun, hanya sekitar 12–15 persen yang berpraktik sebagai arsitek. Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi para lulusan untuk terus mengembangkan kompetensi dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan profesi.
Pengukuhan ini menjadi awal perjalanan profesional bagi para lulusan PPAr FT UNS untuk mengimplementasikan pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan. Melalui pendidikan profesi yang terintegrasi dengan penguatan etika dan standar keahlian, FT UNS diharapkan terus berkontribusi dalam menyiapkan arsitek yang mampu menjawab tantangan pembangunan dan kebutuhan masyarakat.



Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan pendidikan profesi untuk meningkatkan kompetensi lulusan, serta SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan peran arsitek dalam menghasilkan lingkungan binaan yang aman, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Humas FT UNS.




