
FT UNS – Perencanaan sumur resapan di kawasan perkotaan selama ini umumnya masih didasarkan pada curah hujan atau debit banjir. Melalui disertasinya, Dr. Oktavia Kurnianingsih menghadirkan pendekatan baru dengan menjadikan kedalaman genangan sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan sumur resapan. Inovasi ini diharapkan mampu menghasilkan perencanaan drainase yang lebih akurat dan adaptif dalam mendukung mitigasi banjir perkotaan di Indonesia.
Inovasi tersebut dipaparkan dalam Yudisium Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) yang diselenggarakan pada Selasa (07/07/2026) di Ruang Multimedia FT UNS. Dr. Oktavia meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Pemodelan Genangan untuk Perencanaan Sumur Resapan di Kawasan Perkotaan. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Ir. Rr. Rintis Hadiani, M.T., IPU., ASEAN Eng. sebagai Ketua Tim Promotor, didampingi Dr. Ir. Bambang Setiawan, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., dan Prof. Dr. Ir. Sobriyah, M.S. sebagai ko-promotor.
Dr. Oktavia resmi dinyatakan lulus Program Doktor Ilmu Teknik Sipil UNS pada 25 Juni 2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Ia menyelesaikan studi dalam waktu tiga tahun dan meraih predikat Cumlaude. Selama menempuh studi doktoralnya, ia juga menghasilkan berbagai luaran ilmiah, di antaranya publikasi pada jurnal internasional bereputasi, artikel konferensi internasional, serta engineering tools berupa Kalkulator Sumur Resapan yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Dalam penelitiannya, Dr. Oktavia mengembangkan sebuah framework pemodelan genangan yang mengintegrasikan analisis hidrologi, hidraulika, dan infiltrasi dalam satu pendekatan. Framework tersebut mampu menggambarkan hubungan antara hujan, karakteristik genangan, dan kebutuhan sumur resapan sehingga memberikan dasar yang lebih komprehensif dibandingkan metode perencanaan konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman genangan memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan curah hujan dalam menentukan kebutuhan sumur resapan. Temuan ini membuka paradigma baru bahwa karakteristik genangan dapat menjadi indikator utama dalam penyusunan strategi pengendalian banjir dan pengelolaan drainase di kawasan perkotaan.
Sebagai implementasi hasil riset, Dr. Oktavia mengembangkan Kalkulator Sumur Resapan, sebuah engineering tools berbasis website yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu perencana maupun pemerintah daerah menghitung kebutuhan jumlah sumur resapan secara lebih praktis berdasarkan kedalaman genangan, kondisi tanah, dan muka air tanah.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi mitigasi banjir berbasis data dan kondisi hidrologi kawasan. Melalui pendekatan tersebut, pembangunan infrastruktur resapan air tidak lagi dilakukan secara konvensional, tetapi berdasarkan lokasi yang paling efektif dalam mengurangi genangan.
“Harapan kami, melalui paradigma baru ini pemerintah daerah dapat melakukan mitigasi banjir dengan lebih cepat, khususnya di kawasan perkotaan yang sering mengalami genangan saat intensitas hujan tinggi. Dengan mengidentifikasi titik-titik akumulasi genangan melalui Kalkulator Sumur Resapan, pembangunan infrastruktur pengendali banjir dapat direncanakan secara lebih efektif dan efisien. Jika sebelumnya dibutuhkan sepuluh titik pembangunan, melalui perencanaan yang tepat jumlahnya bisa lebih sedikit sehingga biaya pembangunan juga dapat dihemat,” ujar Dr. Oktavia.

Melalui penelitian ini, Dr. Oktavia Kurnianingsih tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan pemodelan banjir perkotaan, tetapi juga menghadirkan solusi yang aplikatif bagi perencanaan infrastruktur drainase yang lebih efektif dan berkelanjutan. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, perencana, maupun praktisi dalam meningkatkan ketahanan kawasan perkotaan terhadap risiko banjir.
Penelitian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan inovasi berbasis riset, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan mitigasi banjir perkotaan, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui peningkatan ketahanan kawasan perkotaan terhadap dampak perubahan iklim.
Humas FT UNS.




