
FT UNS – Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil (PSDITS) Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menambah doktor baru melalui Yudisium Promosi Doktor Ilmu Teknik Sipil atas nama Dr. Reki Arbianto, Rabu (26/8/2026), di Ruang Multimedia FT UNS. Dr. Reki dinyatakan lulus dengan IPK 4,00, predikat cumlaude, dan masa studi 3 tahun 6 bulan.
Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta tersebut berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Perilaku Geofoam yang Diperkuat Angkur Heliks pada Tanah Gambut akibat Beban Aksial dan Gaya Angkat.” Penelitian ini mengkaji pemanfaatan geofoam sebagai material timbunan ringan yang diperkuat angkur heliks untuk mendukung pembangunan konstruksi di atas tanah gambut.
Tanah gambut memiliki daya dukung rendah dan kompresibilitas tinggi sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam pembangunan infrastruktur. Penggunaan geofoam dapat mengurangi beban timbunan, namun bobotnya yang ringan membuat material tersebut rentan terhadap gaya angkat. Reki kemudian menguji efektivitas penggunaan angkur heliks dengan konfigurasi single helix dan double helix.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa angkur heliks memberikan kontribusi paling signifikan dalam menahan gaya angkat. Konfigurasi double helix mampu memberikan kapasitas tahanan sekitar 2,5–3 kali lebih baik dibandingkan single helix. Perbedaan tersebut berkaitan dengan mekanisme keruntuhan yang terjadi pada masing-masing konfigurasi.

“Untuk perkuatan angkur heliks sendiri ternyata yang paling dominan adalah di gaya angkat. Dengan selisih antara single helix dan double helix sekitar 2,5 sampai 3 kali, kontribusi double helix memang lebih baik pada moda gaya angkat,” jelas Dr. Reki.
Menurunya, hasil penelitian tersebut memiliki peluang penerapan terutama pada pembangunan jalan di atas tanah lunak. Geofoam juga telah digunakan sebagai material timbunan ringan pada sejumlah infrastruktur jalan. Ke depan, penelitian masih perlu dikembangkan, antara lain melalui eksplorasi jumlah dan dimensi heliks, rasio jarak antardiameter heliks, serta penguatan sambungan antara angkur heliks dan geofoam.
“Yang paling penting adalah sambungan antara angkur heliks dan geofoam. Kita harus memastikan sambungannya benar-benar firm,” ujarnya.

Disertasi Dr. Reki dibimbing oleh Prof. Ir. Yusep Muslih Purwana, S.T., M.T., Ph.D., IPU. sebagai Ketua Tim Promotor, bersama Dr. Ir. Bambang Setiawan, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. sebagai Ko-Promotor 1 dan Dr. Ir. Galuh Chrismaningwang, S.T., M.T. sebagai Ko-Promotor 2.
Prof. Yusep Muslih menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Dr. Reki menyelesaikan pendidikan doktornya. Ia menilai proses tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama dalam memperoleh bahan baku geofoam yang relatif sulit dan mahal.

“Meski sempat menghadapi beberapa tantangan, terutama untuk mendapatkan bahan baku geofoam yang sangat sulit dan mahal, Dr. Reki dapat menyelesaikan doktornya kurang dari empat tahun,” ujar Prof. Muslih.
Capaian Dr. Reki Arbianto sekaligus memperkuat kontribusi FT UNS dalam pengembangan inovasi di bidang rekayasa geoteknik dan teknologi konstruksi. Penelitian ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9: (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi material dan metode konstruksi untuk mendukung infrastruktur yang lebih andal dan tangguh, serta SDG 11: (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui kontribusinya terhadap pengembangan infrastruktur transportasi yang dapat diterapkan pada kondisi tanah lunak.
Humas FT UNS.




