
FT UNS –Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menghadirkan CEO Talk #10 bersama PT Komatsu Indonesia bertempat di Ruang Multimedia Gedung IV FT UNS, Sabtu (3/10/2026). Menghadirkan Ir. Jamalludin, M.T., Presiden Direktur PT Komatsu Indonesia, kegiatan ini mengangkat tema “Indonesia Vision 2045: Global Economic Challenges, Future Industry Prospects, and the Skills & Character Required.”
CEO Talk #10 menjadi ruang bagi mahasiswa FT UNS untuk memahami perubahan industri manufaktur, tantangan ekonomi global, serta kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja menuju Indonesia Vision 2045. Kegiatan dimoderatori oleh Dr. Sukmaji Indro C., S.T., M.Eng., dosen Teknik Mesin FT UNS.
Dekan FT UNS, Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., IPU., dalam sambutannya menyampaikan bahwa perkembangan otomatisasi, digitalisasi, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, dan teknologi hijau telah mengubah cara industri bekerja. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai ilmu dan teknologi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan terus belajar.

“Manfaatkan CEO Talk ini bukan sekadar untuk menambah wawasan, tetapi untuk memahami kompetensi dan karakter apa yang harus kita bangun mulai hari ini agar siap menghadapi industri masa depan,” ujar Prof. Wahyudi.
Dalam paparannya, Ir. Jamalludin menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan industri agar kerja sama tidak berhenti pada seremoni, tetapi menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, maupun perusahaan.
“Dengan adanya kolaborasi, dengan adanya kerja sama, harapannya ini bisa terwujud. Karena cita-cita, visi, dan misi dari perusahaan kami adalah bagaimana kita bisa membuat kontribusi terhadap bangsa ini,” ujar Jamalludin.

Bagi mahasiswa teknik, penguasaan hard skills seperti teknologi manufaktur, analisis data, otomatisasi, dan teknologi hijau perlu berjalan beriringan dengan soft skills. Kemampuan komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, ketangguhan, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam kesiapan memasuki dunia profesional.
Prof. Wahyudi menegaskan bahwa internship merupakan bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman experiential learning yang menghubungkan pembelajaran di ruang kuliah dengan persoalan nyata di industri.
“Bagi kami, internship bukan sekadar pengalaman bekerja, tetapi merupakan bentuk experiential learning kesempatan bagi mahasiswa untuk membawa ilmu dari ruang kuliah ke dunia industri dan belajar menghadapi persoalan nyata,” jelasnya.

Kerja sama tersebut membuka peluang pengembangan pendidikan berbasis industri, pengembangan kompetensi dan talenta, penelitian terapan, serta inovasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menutup sambutannya, Prof. Wahyudi berpesan kepada mahasiswa FT UNS untuk tidak berhenti pada kesiapan memasuki dunia kerja, tetapi mampu menghasilkan solusi bagi persoalan industri dan masyarakat.
“Jangan hanya menjadi pencari kerja. Jadilah pencipta solusi.” tutup Prof. Wahyudi

Melalui CEO Talk #10, FT UNS terus memperkuat hubungan pendidikan tinggi dengan dunia industri sebagai bagian dari upaya menyiapkan talenta teknik yang kompeten, adaptif, dan berkarakter untuk menghadapi perubahan industri menuju Indonesia 2045.
Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran berbasis pengalaman, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan kesiapan talenta memasuki dunia kerja, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan kolaborasi perguruan tinggi dan industri.
Humas FT UNS.




