
FT UNS – Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil, dan Research Group GeoScience Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “From Seismic Hazard Models to Earthquake-Resistant Design”, Kamis (1/10/2026), di Ruang Multimedia Gedung IV FT UNS.
Kuliah tamu menghadirkan dua pakar kegempaan dan rekayasa gempa, yakni Dr. Mark D. Petersen dari United States Geological Survey (USGS) dan Prof. Dr. Ir. Masyhur Irsyam, M.S.E. dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Keduanya membahas keterkaitan antara pengembangan model bahaya seismik, pemutakhiran peta bahaya gempa, hingga penerapannya dalam perencanaan bangunan dan infrastruktur tahan gempa.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Teknik Sipil FT UNS, Prof. Ir. Yusep Muslih Purwana, S.T., M.T., Ph.D., IPU., menyampaikan bahwa Indonesia memiliki tantangan besar dalam menghadapi bahaya gempa karena berada di kawasan Ring of Fire dan pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif.
“Ketahanan terhadap gempa bukan hanya persoalan akademik, tetapi merupakan bagian penting dari keselamatan masyarakat, pembangunan infrastruktur, dan keberlanjutan pembangunan nasional,” ujar Prof. Muslih.

Menurutnya, upaya membangun ketahanan terhadap gempa membutuhkan kolaborasi lintas bidang, mulai dari geologi, geofisika, geoteknik, hingga rekayasa struktur. UNS sendiri telah mengembangkan penelitian kegempaan selama lebih dari satu dekade, antara lain melalui kajian mikrozonasi seismik Kota Surakarta, Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), pemetaan bahaya gempa kawasan Subosukawonosraten, serta kajian risiko gempa terhadap bangunan dan infrastruktur publik.
Penelitian tersebut juga berkembang pada aspek mitigasi struktur, termasuk kajian base isolation dengan mini shaking table. Mahasiswa UNS turut terlibat dalam penelitian bahaya gempa tingkat nasional melalui Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dan berkontribusi dalam penyusunan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.
Pada sesi pertama, Dr. Mark D. Petersen menyampaikan materi “Developing and Using National Seismic Hazard Models: Lessons from the 2023 U.S. Update”. Ia membahas pengembangan National Seismic Hazard Model Amerika Serikat dan pentingnya pembaruan model berdasarkan perkembangan data dan ilmu pengetahuan, termasuk informasi sesar aktif, katalog seismisitas, rekaman gerak tanah, karakteristik cekungan sedimen, serta Ground Motion Models (GMM).

Sementara itu, Prof. Masyhur Irsyam menyampaikan materi “Applications of Seismic Hazard Maps for Earthquake Resistant Design of Buildings and Infrastructures in Indonesia”. Paparan membahas pemanfaatan informasi geologi, seismologi, geodesi, karakteristik sumber gempa, dan GMM dalam menghasilkan parameter bahaya gempa untuk perencanaan struktur.
Prof. Masyhur juga membahas Peta Bahaya Gempa Indonesia 2024 sebagai pembaruan dari peta 2017. Informasi tersebut dapat diterapkan pada berbagai infrastruktur, antara lain bangunan, jembatan, bendungan, terowongan, fasilitas bandar udara, hingga struktur lepas pantai.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus memperkuat keterhubungan antara ilmu kebumian dan rekayasa sipil. Prof. Muslih mengajak mahasiswa memanfaatkan forum tersebut untuk memperkaya penelitian akademik.

“Jangan hanya menjadi pendengar, tetapi aktiflah menyimak, berpikir kritis, dan mengajukan pertanyaan. Saya berharap materi yang diperoleh hari ini dapat memberikan inspirasi dan bahkan menjadi masukan bagi tugas akhir, tesis, disertasi, maupun penelitian yang sedang Saudara lakukan,” ungkapnya.
Melalui kuliah tamu ini, FT UNS mendorong penguatan riset kegempaan yang menghubungkan analisis bahaya seismik dengan pengembangan infrastruktur tahan gempa. Pertukaran pengetahuan dengan pakar dari USGS dan ITB diharapkan turut memperluas wawasan sivitas akademika serta membuka peluang pengembangan riset di bidang mitigasi bencana dan ketahanan infrastruktur.

Kegiatan tersebut turut mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran dan pertukaran pengetahuan, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan riset dan infrastruktur yang tangguh, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan ketahanan terhadap risiko bencana.
Humas FT UNS.




