
FT UNS – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Research Group Konversi Energi Terapan dan Nano Teknologi (KonvEn TerNano) Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) menerapkan teknologi peternakan terintegrasi bagi Kelompok Peternak Tijaro Q-Breed di Desa Puron, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo pada Senin (27/07/2026). Program ini bertujuan membantu peternak mengatasi tingginya kematian bibit ayam, menekan biaya pakan, serta mengurangi pencemaran limbah peternakan.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) UNS Tahun 2026 ini diketuai oleh Prof. Dr. techn. Ir. Suyitno, S.T., M.T. bersama tim dosen Fakultas Teknik UNS.
Selama ini, peternak masih bergantung pada pasokan Day-Old Chick (DOC) dari luar daerah. Selain meningkatkan biaya produksi, kondisi tersebut juga menyebabkan tingginya risiko kematian embrio akibat proses distribusi.
Menurut Prof. Suyitno, rendahnya kemampuan mengeram Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) membuat peternak masih bergantung pada pasokan bibit dari luar yang rentan mengalami kerusakan selama pengiriman. Oleh karena itu, program ini dirancang untuk mendorong kemandirian peternak dalam memproduksi bibit sekaligus meningkatkan efisiensi usaha peternakan.

“Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) memiliki produktivitas telur yang tinggi, tetapi kemampuan mengeramnya sangat rendah. Karena itu, peternak masih bergantung pada pasokan bibit dari luar yang berisiko mengalami kerusakan selama proses pengiriman. Melalui program ini, kami ingin membantu peternak agar mampu memproduksi bibit secara mandiri sekaligus meningkatkan efisiensi usaha peternakan,” jelas Prof. Suyitno.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim FT UNS mengimplementasikan empat teknologi tepat guna, yaitu mesin penetas telur presisi, kandang hibrid modular dengan sistem air minum otomatis, pengolahan limbah menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), serta teknologi fermentasi pakan berbasis bahan baku lokal.
Mesin penetas yang dikembangkan mampu menjaga suhu inkubasi tetap stabil sehingga meningkatkan daya tetas telur hingga lebih dari 85 persen. Capaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan telur yang diperoleh melalui distribusi jarak jauh yang rentan mengalami penurunan kualitas akibat proses pengiriman.
Selain itu, tim juga mengembangkan kandang hibrid menggunakan konstruksi baja ringan dan bambu yang dilengkapi sistem air minum tetes (drip nipple drinker). Sistem ini membantu menjaga kondisi kandang tetap kering dan higienis sekaligus mengurangi risiko kebocoran air.
Pada aspek pengelolaan limbah, kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media budidaya larva BSF yang mampu mengurangi bau tidak sedap akibat gas amonia sekaligus menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber pakan.

Program ini melibatkan tim dosen FT UNS yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Zainal Arifin, S.T., M.T., Prof. Ir. Dominicus Danardono Dwi Prija Tjahjana, S.T., M.T., Ph.D., Dr. Ir. Rendy Adhi Rachmanto, S.T., M.T., Dr. Ir. Wibawa Endra Juwana, S.T., M.T., dan Dr. Eng. Ir. Indri Yaningsih, S.T., M.T., serta mahasiswa Program Studi Teknik Mesin FT UNS.
Melalui penerapan teknologi peternakan terintegrasi ini, FT UNS berharap peternak mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bibit dari luar, menekan biaya produksi, serta mengelola limbah peternakan secara lebih ramah lingkungan.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan produktivitas usaha peternakan, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah dan efisiensi sumber daya, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Humas FT UNS.




